Perhatian Orang Tua Tentukan Prestasi Belajar Siswa – Republika Online |
Jul 9, ’06 10:12 AMfor everyone |
Perhatian Orang Tua Tentukan Prestasi Belajar Siswa – Republika Online |
Jul 9, ’06 10:12 AMfor everyone |
Dalam penelitian ini, ada 30 pertanyaan yang diajukan kepada responden. Soal penyediaan sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah, misalnya. Dari pertanyaan ini diperoleh informasi sebanyak 70 siswa (53,44 persen) menyatakan disediakan sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Sebanyak 55 responden (41,89 persen) menyatakan kadang-kadang dan ada 6 responden (4,58 persen) menyatakan tidak pernah disiapkan sarapan pagi.
Selain itu, ada 65 responden (49,62 persen) menyatakan orang tua menyiapkan situasi khusus dengan makan bersama sebelum anak berangkat ke sekolah. Ada 13 responden (9,92 persen) menyatakan terpisah dengan orang tua saat sarapan dan 53 responden (40,46 persen) yang menyatakan tidak menentu.
Sejauh mana orang tua menyiapkan keperluan sekolah anaknya? Sebanyak 77 responden (58,78 persen) menjawab selalu diberikan dengan teratur, 42 responden (32,06 persen) menyebut kadang-kadang, dan 12 responden (9,16 persen) menyatakan tidak teratur. Dari penelitian ini juga diperoleh informasi bahwa ada 114 responden (87,22 persen) menyatakan selalu dianjurkan oleh orang tua untuk mengganti pakaian sekolah setelah tiba di rumah, enam responden (4,58 persen) menyatakan kadang-kadang, dan 11 responden (8,40 persen) menjawab tidak dianjurkan.
Terhadap penyediaan buku-buku yang dibutuhkan saat belajar, ada 65 responden (49,62 persen) menyatakan tidak disediakan dan 35 responden (26,72 persen) kadang-kadang. Hanya 31 responden (22,66 persen) yang menjawab selalu disediakan. Gambaran berbeda tecermin dari ketersediaan alat-alat yang dibutuhkan ketika belajar. Yakni, 68 responden (51,91 persen) menyatakan selalu disediakan, 42 responden (32,06 persen) menjawab kadang-kadang, dan ada 21 responden (16,03 persen) mengaku tidak disediakan.
Bagaimana dengan perhatian orang tua dalam membantu kesulitan belajar anak? Dari penelitian ini terungkap, ada 61 responden (46,57 persen) mengaku selalu dibantu, 51 responden (38,3 persen) menyatakan kadang-kadang, dan 19 responden (14,50 persen) memgaku kurang mendapat perhatian. Ini berarti, mayoritas orang tua memperhatikan dengan membantu kesulitan belajar anaknya.
Dari serangkaian penelitian itu, Tata Eliestiana Dyah Armunanto menyimpulkan bahwa peranan orang tua dalam lingkungan keluarga yang terpenting adalah memberikan pengalaman pertama pada masa anak-anak, sebab pengalaman pertama merupakan faktor penting dalam perkembangan pribadi anak. Disimpulkan pula bahwa siswa yang mendapat perhatian baik dari orang tuanya mendapat prestasi belajar lebih baik dibandinng siswa yang kurang mendapat perhatian dari orang tua. ”Orang tua yang memberikan perhatian besar terhadap proses belajar putra-putrinya akan mendapat prestasi belajar yang tinggi bagi anak,” tuturnya.
Tata menyarankan, perlu ada pembinaan dan perhatian orang tua. Itu karena perhatian orang tua mempunyai pengaruh besar terhadap peningkatan prestasi belajar anak di sekolah. Selain itu, kata dia, diperlukan kerja sama yang intens antara pihak sekolah dengan orang tua siswa dalam upaya meningkatkan prestasi belajar anak.
Dia juga menyarankan agar lembaga atau organisasi persatuan orang tua siswa yang telah dibentuk selama ini perlu diaktifkan atau dengan kata lain funngsinya dioptimalkan. ”Orang tua yang bijaksana hendaklah berusaha untuk membangkitkan kemauan belajar anak dengan tujuan agar anak tetap mempunyai semangat yang tinggi dalam belajar, baik di sekolah maupun di rumah,” tuturnya.
( bur )Mari Belajar di Alam Terbuka

Dok. RAKATA
Salah satu permainan dalam kegiatan belajar di alam terbuka.
JAKARTA – Punya kegemaran jalan-jalan ke alam bebas (outdoor)? Bersyukurlah kalau Anda termasuk salah satu orang yang punya hobi asyik ini. Bercengkerama dengan alam ternyata bisa jadi tes psikologi yang ampuh bagi seseorang. Kini, kegiatan belajar bersama alam terbuka marak ditawarkan. Tapi apa iya ada yang salah?
Mainlah keluar, ke alam terbuka. Dari situ, kita bisa menarik seabrek pengalaman. Pengalaman yang akan diterapkan sebagai konsep belajar dan membuka diri sendiri. Konsep inilah yang dianggap mumpuni untuk menstimulasi kegiatan sehari-hari.
Belakangan bila Anda jeli, banyak perusahaan dan sekolah yang tertarik untuk mencicipi program belajar ke alam terbuka. Menurut Wien Soehardjo, seorang konsultan pelatihan alam terbuka, kecenderungan perusahaan untuk mengikutsertakan para karyawannya dalam kegiatan pelatihan team building, melalui pelatihan berbasis kegiatan simulasi di alam terbuka, semakin meningkat.
Peningkatan itu diimbangi dengan pertumbuhan operator-operator penyedia jasa pelatihan di alam terbuka—yang lebih populer dengan istilah outbound training. Meskipun istilah ini tidak dikenal dalam dunia pendidikan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor education), tampaknya masyarakat terlanjur mengenalnya.
Akibat salah kaprah tadi, masyarakat awam terlanjur rancu dengan istilah outbound training. Padahal, pengertian outbound training sendiri masih tidak jelas. ”Banyak penyedia jasa maupun pengguna jasa berbasis aktivitas tali-temali (ropes course) menyebut kegiatannya sebagai outbound training,” ujar salah seorang punggawa Lunar Communicatons and Event Organizer ini.
Sementara itu, banyak pula yang menyebut kegiatan rekreasi (outing) dengan outbound, hanya karena beberapa jenis permainan yang biasa digunakan dalam pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based) dimainkan pada acara itu. Di lain pihak, ada yang menyebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka sebagai outbound training.
Apa yang disebut sebagai outbound training oleh mereka yang menggunakan alam terbuka sebagai media belajar, sebenarnya lebih tepat jika disebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based training) dengan mengedepankan pendekatan belajar dari pengalaman (experiential learning).
Uraian yang disampaikan Wien tadi disetujui oleh Handriatno Waseso dari RAKATA—salah satu operator pelatihan di alam terbuka. Katanya, dalam literatur belajar dari pengalaman tak pernah dikenal istilah outbound training. ”Yang ada itu, outdoor based training. Mungkin salah kaprah ini karena operator pertama yang memasarkan pelatihan model ini di Indonesia adalah Outward Bound Indonesia (OBI). Karena keseringan disebut akhirnya keluar istilah outbound training,” tutur Handriatno mencoba meraba awal mula salah kaprah tadi.
Definisi
Secara singkat, Claxton (1987) mengemukakan bahwa yang disebut experiential learning (EL) adalah proses belajar di mana subjek melakukan sesuatu—bukan hanya memikirkan sesuatu. Ditinjau dari pengertian ini, maka apa yang dilakukan peserta belajar, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas, dapat disebut sebagai EL.
Pepatah mengatakan bahwa ”pengalaman adalah guru yang paling baik”. Makna yang sama telah dikemukakan oleh Confucius beberapa abad lalu. Dia mengatakan bahwa: ”aku melakukan, maka aku memahami”.
Lebih jauh Wien memaparkan bahwa kegiatan EL itu tak terbatas belajar di alam terbuka. ”Cakupannya bisa dari bercocok tanam sampai ke conflict resolution. Dari assessment (psikologis) sampai ke perkembangan remaja. Dari skill training sampai ke model-model teori.” Malahan sebagian besar orang menyebut bahwa semua jenis pendidikan adalah EL.
Ada empat pandangan tentang EL. Yang pertama, memandang pengalaman hidup dan kerja sebagai basis untuk menciptakan tangga keberhasilan dalam mencapai pendidikan tinggi, pekerjaan, kesempatan mengikuti pelatihan dan menjadi anggota badan profesional.
Kedua, berfokus bahwa EL merupakan basis untuk berkembang dalam berbagai perubahan struktur (organisasi). Ketiga, menekankan EL sebagai basis dalam meningkatkan kesadaran akan grup, perubahan sosial dan kegiatan kemasyarakatan. Terakhir, menekankan perkembangan personal dan perkembangan efektivitas tim.
Refleksi Saat Diskusi
Handriatno menyebut EL itu lebih dari sekadar model belajar learning by doing. ”EL itu learning by doing reflection.” Refleksinya akan ditunjukkan pada saat diskusi. Dalam pelatihan ini, peran fasilitator yang akan membawa peserta kepada refleksi. Kalau Anda berjalan-jalan ke alam terbuka, refleksi diri inilah yang harus ditemukan.
Namun di sisi lain, ia menolak bila EL itu adalah kegiatan di luar ruang. Sebab, kegiatan ini bisa dilakukan di dalam ruang. Tergantung media yang akan dipakai dan juga tak selalu melibatkan aktivitas fisik yang terlalu banyak. ”Kalaupun saya lebih banyak mengajak untuk berlatih di alam terbuka pertimbangannya karena orang akan lebih banyak berekspresi dan eksplorasi.”
Alasan lelaki bertubuh subur itu didasarkan pada pandangan orang terhadap alam terbuka. Di sini, mereka selalu memandang sebuah media yang lebih luas dan merasa tak ada beban di pundak. Ini akan sangat membantu untuk membuka pikiran diri sendiri.
Di alam terbuka, orang memasuki tahapan pengalaman emosional yang lebih kuat. Waktu berkegiatan mereka banyak mengeluarkan aktivitas fisik. Rasa capek membaluti sisa tenaga yang masih tersisa. ”Biasanya orang-orang yang masih punya sisa tenaga selalu menyemangati teman-teman yang sudah capek. Di sini jelas sekali terlihat.”
Dalam tiap kali pelatihan EL, RAKATA selalu mengadopsi proses SSA (Simak, Sadari dan Asah). ”Setelah melakukan sesuatu, mereka akan masuk tahapan menyadari dan tarik hikmah. Di sini peserta sudah bisa berteori tentang diri sendiri dan kemudian asah si hikmah,” papar Handriatno. Nantinya, hikmah akan diterapkan dan dimanfaatkan untuk diri sendiri.
Untuk membantu menarik semua itu, fasilitator dituntut untuk bisa memainkan perannya. Tugas mereka yang paling utama adalah membantu peserta mengenali diri sendiri. Biasanya, setelah melakukan sebuah permainan komentar umum yang terlontar dari kebanyakan peserta adalah soal kerja sama. Kalau dibiarkan ini akan bersifat umum, fasilitator harus mampu untuk menggali dari pengalaman peserta. Tujuannya untuk lebih deskriptif.
Selain itu, fasilitator juga harus sanggup menstimulasi peserta dalam hal meyakini sesuatu. ”Cukup sering ditemukan bahwa trust itu harus selalu ada bukti, kejadian ini terjadi pada saat sebelum pelatihan,” ujar Handriatno yang sejak 1997 mengikuti kegiatan EL ini. Padahal, ada orang yang sebetulnya mampu berbuat sesuatu asalkan punya kesempatan untuk mencoba. Nah, semua itu butuh kepercayaan.
Sebelum memutuskan untuk mengikuti pelatihan di alam terbuka lebih baik pahami dulu kajian yang ditawarkan. Jangan sampai Anda ikut-ikutan latah pada tren yang sedang mengemuka. Yang jelas jangan pernah meremehkan makna belajar di alam terbuka. Jadi, mulailah bermain-main di sela rutinitas yang menjepit hidup. (bay)
nama:shylvia chayatun nufus
kelas:xii bahasa
alamat:jl.Pinang gang 1 n0:21 blabak kota kediri
n0:telp:0354 694606
085736218178
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Just another WordPress.com weblog