Mari Belajar di Alam Terbuka

Dok. RAKATA
Salah satu permainan dalam kegiatan belajar di alam terbuka.
JAKARTA – Punya kegemaran jalan-jalan ke alam bebas (outdoor)? Bersyukurlah kalau Anda termasuk salah satu orang yang punya hobi asyik ini. Bercengkerama dengan alam ternyata bisa jadi tes psikologi yang ampuh bagi seseorang. Kini, kegiatan belajar bersama alam terbuka marak ditawarkan. Tapi apa iya ada yang salah?
Mainlah keluar, ke alam terbuka. Dari situ, kita bisa menarik seabrek pengalaman. Pengalaman yang akan diterapkan sebagai konsep belajar dan membuka diri sendiri. Konsep inilah yang dianggap mumpuni untuk menstimulasi kegiatan sehari-hari.
Belakangan bila Anda jeli, banyak perusahaan dan sekolah yang tertarik untuk mencicipi program belajar ke alam terbuka. Menurut Wien Soehardjo, seorang konsultan pelatihan alam terbuka, kecenderungan perusahaan untuk mengikutsertakan para karyawannya dalam kegiatan pelatihan team building, melalui pelatihan berbasis kegiatan simulasi di alam terbuka, semakin meningkat.
Peningkatan itu diimbangi dengan pertumbuhan operator-operator penyedia jasa pelatihan di alam terbuka—yang lebih populer dengan istilah outbound training. Meskipun istilah ini tidak dikenal dalam dunia pendidikan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor education), tampaknya masyarakat terlanjur mengenalnya.
Akibat salah kaprah tadi, masyarakat awam terlanjur rancu dengan istilah outbound training. Padahal, pengertian outbound training sendiri masih tidak jelas. ”Banyak penyedia jasa maupun pengguna jasa berbasis aktivitas tali-temali (ropes course) menyebut kegiatannya sebagai outbound training,” ujar salah seorang punggawa Lunar Communicatons and Event Organizer ini.
Sementara itu, banyak pula yang menyebut kegiatan rekreasi (outing) dengan outbound, hanya karena beberapa jenis permainan yang biasa digunakan dalam pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based) dimainkan pada acara itu. Di lain pihak, ada yang menyebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka sebagai outbound training.
Apa yang disebut sebagai outbound training oleh mereka yang menggunakan alam terbuka sebagai media belajar, sebenarnya lebih tepat jika disebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based training) dengan mengedepankan pendekatan belajar dari pengalaman (experiential learning).
Uraian yang disampaikan Wien tadi disetujui oleh Handriatno Waseso dari RAKATA—salah satu operator pelatihan di alam terbuka. Katanya, dalam literatur belajar dari pengalaman tak pernah dikenal istilah outbound training. ”Yang ada itu, outdoor based training. Mungkin salah kaprah ini karena operator pertama yang memasarkan pelatihan model ini di Indonesia adalah Outward Bound Indonesia (OBI). Karena keseringan disebut akhirnya keluar istilah outbound training,” tutur Handriatno mencoba meraba awal mula salah kaprah tadi.
Definisi
Secara singkat, Claxton (1987) mengemukakan bahwa yang disebut experiential learning (EL) adalah proses belajar di mana subjek melakukan sesuatu—bukan hanya memikirkan sesuatu. Ditinjau dari pengertian ini, maka apa yang dilakukan peserta belajar, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas, dapat disebut sebagai EL.
Pepatah mengatakan bahwa ”pengalaman adalah guru yang paling baik”. Makna yang sama telah dikemukakan oleh Confucius beberapa abad lalu. Dia mengatakan bahwa: ”aku melakukan, maka aku memahami”.
Lebih jauh Wien memaparkan bahwa kegiatan EL itu tak terbatas belajar di alam terbuka. ”Cakupannya bisa dari bercocok tanam sampai ke conflict resolution. Dari assessment (psikologis) sampai ke perkembangan remaja. Dari skill training sampai ke model-model teori.” Malahan sebagian besar orang menyebut bahwa semua jenis pendidikan adalah EL.
Ada empat pandangan tentang EL. Yang pertama, memandang pengalaman hidup dan kerja sebagai basis untuk menciptakan tangga keberhasilan dalam mencapai pendidikan tinggi, pekerjaan, kesempatan mengikuti pelatihan dan menjadi anggota badan profesional.
Kedua, berfokus bahwa EL merupakan basis untuk berkembang dalam berbagai perubahan struktur (organisasi). Ketiga, menekankan EL sebagai basis dalam meningkatkan kesadaran akan grup, perubahan sosial dan kegiatan kemasyarakatan. Terakhir, menekankan perkembangan personal dan perkembangan efektivitas tim.
Refleksi Saat Diskusi
Handriatno menyebut EL itu lebih dari sekadar model belajar learning by doing. ”EL itu learning by doing reflection.” Refleksinya akan ditunjukkan pada saat diskusi. Dalam pelatihan ini, peran fasilitator yang akan membawa peserta kepada refleksi. Kalau Anda berjalan-jalan ke alam terbuka, refleksi diri inilah yang harus ditemukan.
Namun di sisi lain, ia menolak bila EL itu adalah kegiatan di luar ruang. Sebab, kegiatan ini bisa dilakukan di dalam ruang. Tergantung media yang akan dipakai dan juga tak selalu melibatkan aktivitas fisik yang terlalu banyak. ”Kalaupun saya lebih banyak mengajak untuk berlatih di alam terbuka pertimbangannya karena orang akan lebih banyak berekspresi dan eksplorasi.”
Alasan lelaki bertubuh subur itu didasarkan pada pandangan orang terhadap alam terbuka. Di sini, mereka selalu memandang sebuah media yang lebih luas dan merasa tak ada beban di pundak. Ini akan sangat membantu untuk membuka pikiran diri sendiri.
Di alam terbuka, orang memasuki tahapan pengalaman emosional yang lebih kuat. Waktu berkegiatan mereka banyak mengeluarkan aktivitas fisik. Rasa capek membaluti sisa tenaga yang masih tersisa. ”Biasanya orang-orang yang masih punya sisa tenaga selalu menyemangati teman-teman yang sudah capek. Di sini jelas sekali terlihat.”
Dalam tiap kali pelatihan EL, RAKATA selalu mengadopsi proses SSA (Simak, Sadari dan Asah). ”Setelah melakukan sesuatu, mereka akan masuk tahapan menyadari dan tarik hikmah. Di sini peserta sudah bisa berteori tentang diri sendiri dan kemudian asah si hikmah,” papar Handriatno. Nantinya, hikmah akan diterapkan dan dimanfaatkan untuk diri sendiri.
Untuk membantu menarik semua itu, fasilitator dituntut untuk bisa memainkan perannya. Tugas mereka yang paling utama adalah membantu peserta mengenali diri sendiri. Biasanya, setelah melakukan sebuah permainan komentar umum yang terlontar dari kebanyakan peserta adalah soal kerja sama. Kalau dibiarkan ini akan bersifat umum, fasilitator harus mampu untuk menggali dari pengalaman peserta. Tujuannya untuk lebih deskriptif.
Selain itu, fasilitator juga harus sanggup menstimulasi peserta dalam hal meyakini sesuatu. ”Cukup sering ditemukan bahwa trust itu harus selalu ada bukti, kejadian ini terjadi pada saat sebelum pelatihan,” ujar Handriatno yang sejak 1997 mengikuti kegiatan EL ini. Padahal, ada orang yang sebetulnya mampu berbuat sesuatu asalkan punya kesempatan untuk mencoba. Nah, semua itu butuh kepercayaan.
Sebelum memutuskan untuk mengikuti pelatihan di alam terbuka lebih baik pahami dulu kajian yang ditawarkan. Jangan sampai Anda ikut-ikutan latah pada tren yang sedang mengemuka. Yang jelas jangan pernah meremehkan makna belajar di alam terbuka. Jadi, mulailah bermain-main di sela rutinitas yang menjepit hidup. (bay)